Apakah Diperlukan Money Management dalam Trading/Berinvestasi ??

Money Management ? Apa itu Money Management ?

Tentu saja kita tidak asing lagi dengan kata berikut, namun apa itu sebenarnya ?

Apa pengaruhnya dalam hidup kita ? Apa pengaruhnya dalam trading dan berinvetasi ?

Seperti yang kita ketahui, money management merupakan pengelolaan keuangan yang dapat menunjang keberlangsungan hidup kita, tanpa money management mungkin keberlangsungan hidup akan terganggu. Contoh sederhananya saja apabila seorang karyawan memiliki gaji 3 juta dan karyawan tersebut tidak memiliki perencanaan keuangan atau pengelolaan keuangan yang optimal, maka pada akhir bulan karyawan akan kesulitan dalam memenuhi kebutuhannya. Dengan merencanakan keuangannya dengan optimal maka karyawan tersebut bisa memenuhi kebutuhannya. Namun bagaimana caranya ?

Pertama, karyawan tersebut harus mulai memperhitungkan berapa pengeluaran dia sebulan. Kita misalkan pengeluaran dia untuk memenuhi kebutuhan hidup adalah 60%. Maka karyawan tersebut harus membuat anggaran sebesar 60% untuk kebutuhannya

Kedua, untuk sisa 40% alokasikan sekali lagi untuk penempatan kebutuhan yang tidak terduga dan kebutuhan jangka panjang
Dengan begitu, karyawan tersebut tidak perlu khawatir akan kebutuhan kedepannya jika kekurangan uang.

Terus apa hubungannya dengan Trading/Investasi ?

Pada dasarnya trading dan investasi sama – sama memerlukan money management namun konsepnya berbeda.
Dalam trading dan berinvestasi hal yang perlu kita ingat adalah trading dan berinvestasi tidak boleh mempengaruhi kehidupan kita, terutama bagi yang berkeluarga. Penulis banyak sekali menemukan para Trader/Investor disana yang bankrupt dari trading dan berinvestasi. Namun penulis juga tidak bisa berbohong bahwa penulis tidak mengalami hal serupa. Namun beruntungnya penulis cepat sadar akan pentingnya money management.

Dalam berinvestasi/trading hal yang perlu diperhatikan adalah dana, dimana dana berikut tidak boleh melebihi dana untuk memenuhi kebutuhan keseharian kita, mari kita patokan sebesar 30% saja dari total dana kita di tabungan.

Langkah kedua adalah memilih instrumen investasi/trading yang kita ingingkan. Dalam hal ini penulis akan membahas tentang saham, dikarenakan penulis sendiri adalah investor saham. Penulis sendiri lebih suka menjadi investor saham dikarenakan waktu yang lebih santai. Namun bukan berarti penulis sendiri tidak trading.

Dalam trading dan berinvestasi saham, hal yang perlu diperhatikan adalah analisa saham tersebut dan penempatan dana yang cocok dalam satu emiten. Usahakan saja saham yang kita beli tidak terlalu banyak, jumlah saham yang optimal adalah 4 saham dan paling banyak adalah 7 saham menurut penulis.

Setiap saham tersebut penulis menyarankan dialokasikan secara proporsional saja dimana paling banyak adalah 15% – 20% dari jumlah modal di portofolio dengan cash in hand sebesar 15%. Alasan adanya cash in hand dikarenakan apabila ada saham yang kita beli pertama dulu turun lagi meskipun kinerjanya bagus, maka penulis bisa membeli lebih banyak lagi.

Jadi apakah setiap saham yang turun terus apakah kita boleh membeli lebih banyak ? Dalam hal ini penulis katakan TIDAK, saham yang penulis sarankan merupakan saham yang kinerjanya bagus dan manajemennya bagus.
Ingat di dalam pasar saham segala resiko bisa saja terjadi bagi siapapun termasuk penulis sendiri. Jadi penulis sendiri ingin mengingatkan, dalam dunia saham ada hal yang wajib dilakukan yaitu CUTLOSS meskipun hal ini akan sangat berat karena akan mempengaruhi keuangan kita

Mengapa penulis menyuruh CUTLOSS ? Apa alasannya ? Seperti yang penulis telah sebutkan bahwasanya dalam pasar saham tidak ada yang bisa memprediksi, kerugian bisa terjadi dimana saja dan kepada siapa saja. Namun dalam dunia saham melakukan pengelolaan keuangan seperti CUTLOSS sangat wajar dilakukan apabila saham yang kita beli telah turun sangat dalam, hal ini juga termasuk dalam kategori money management atau bisa juga disebut risk management.

Dengan mengetahui resiko dan bisa menghadapi resiko, penulis yakin bahwa kita baru bisa melakukan perencanaan keuangan yang lebih optimal. Penulis berharap kita jangan terus terpaku untuk terus membeli suatu saham, kita wajib menganalisa sekali lagi mengapa saham tersebut turun? apakah layak untuk dibeli lagi ?
alangkah baiknya kita menggunakan dana sisa kita untuk membeli saham yang lebih potensial.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *