Value Opportunity AISA ?

Tiga Pilar Sejahtera ( TPS ) atau lebih dikenal dengan kode saham AISA dalam Bursa Efek Indonesia sejatinya merupakan perusahaan yang bergerak dalam produksi makanan ( Bihun ). Pada tahun 1959, pendiri Tiga Pilar Sejahtera  Bapak Tan Pia Sioe mendirikan bisnis keluarga yang memproduksi bihun jagung dengan nama Perusahaan Bihun Cap Cangak Ular di Sukoharjo, Jawa Tengah. TPS pada awalnya hanya memproduksi Bihun namun di tahun 2001 TPS mulai memproduksi mie kering dan TPS mulai mengakuisisi PT Asia Inti Selera Tbk (AISA) di tahun 2013, akuisisi ini membuat bisnis mie kering TPS semakin berjaya, akuisisi ini juga menyebabkan  Tiga Pilar Sejahtera melakukan backdoor listing dan mulai tercacat di Bursa.

Di tahun berikutnya AISA melakukan ekspansi besar – besaran salah satunya adalah masuk ke industri beras pada tahun 2010 melalui pembentukan Distributor JV dan mengakuisisi Pabrik Beras Jatisari Srirejeki. Setelah mengakuisisi industri beras pendapatan AISA tumbuh sebesar 65% atau boleh dikatakan pendapatan terbesar AISA berasal dari industri beras, dan apabila kita melihat potensi pasarnya beras merupakan makanan pokok penduduk di Indonesia sehingga tidak mungkin industri beras akan suram, namun pada kenyataannya tidak begitu. Kita tentu sudah bahwa AISA berencana mendivestasi usaha berasnya. Terus apakah setelah melakukan divestasi beras AISA masih layak untuk diinvestasi ?

Mencermati Laporan Keuangan AISA 2017 Q3

Laporan L/R AISA
Tahun 2017 Q3 ( Jutaan Rupiah )
Penjualan Netto           4,109,041
Beban Pokok Penjualan        (3,101,643)
Laba Bruto           1,007,398
Beban Usaha / Penghasilan Lainnya
Beban Usaha            (489,961)
Penghasilan Lainnya                 52,694
Beban Lainnya              (17,493)
Laba Usaha              552,638
Beban Keuangan            (310,838)
Laba Sebelum Pajak              241,800
Beban Pajak              (65,051)
Laba Tahun Berjalan              176,749
Laba Tahun Berjalan Yang Diatribusikan
Entitas Induk              173,484
Kepentingan Non Pengendali                   3,265
Jumlah              176,749
Laba Per Saham
Jumlah Saham Beredar 3.218.600.000                   53.90
Penjualan Netto
PT. Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk
Tahun 2017 Q3 ( Jutaan Rupiah )
Penjualan Bruto               4,231,851
Diskon Penjualan                (122,810)
Penjualan Netto               4,109,041
Keterangan AmountPersentase
Produksi Makanan
Makanan Pokok
Mie Kering                  436,97910.33%
Bihun                  415,9999.83%
Jumlah Makanan Pokok                  852,97820.16%
Makanan Konsumsi
Wafer Stick dan Snack Ekstrusi                  555,23613.12%
Mie Instan                  305,3507.22%
Biskuit                     74,9921.77%
Permen                     30,5460.72%
Lainnnya                     26,4170.62%
Jumlah Makanan Konsumsi                  992,54123.45%
Pengolahan Beras
Beras               2,386,33156.39%
Jumlah Total Penjualan               4,231,850
Dikurangi Diskon Penjualan                (122,810)
 Penjualan Netto               4,109,040

Penjualan Neto AISA Pada Tahun 2017 Q3 adalah sebesar Rp 4.109.040 merupakan penjualan yang terdiri dari 20.16 % Penjualan Makanan Pokok, 23.45 % Penjualan Makanan Konsumsi, 56.39 % Penjualan Beras. Jika kita melihat data diatas maka kita akan merasa bahwa penjualan beras menguasi ekonomi dalam manajemen keuangan AISA.

Namun apabila kita melihat Beban Pokok Penjualan dan Laba Bersihnya kita baru akan mulai memahami segmen mana yang berkuasa dalam Laba Rugi AISA

Beban Pokok Penjualan
PT. Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk
Tahun 2017 Q3 ( Jutaan Rupiah )
Keterangan AmountPersentase
Produksi Makanan
Bahan Baku Digunakan
Saldo Awal         470,897
Pembelian         855,035
Saldo Akhir      (483,847)
Jumlah Bahan Baku Digunakan         842,085
Tenaga Kerja Langsung           97,621
Biaya Produksi Tidak Langsung         164,879
Biaya Pokok Produksi     1,104,585
Persediaan Barang Jadi
Awal Tahun           15,709
Pembelian           62,801
Akhir Tahun         (20,045)
Jumlah Beban Pokok Penjualan     1,163,05037.50%
Pengolahan Beras
Bahan Baku Digunakan
Saldo Awal     1,090,365
Pembelian     1,309,487
Saldo Akhir      (908,428)
Jumlah Bahan Baku Digunakan     1,491,424
Tenaga Kerja Langsung           33,036
Biaya Produksi Tidak Langsung           79,334
Biaya Pokok Produksi     1,603,794
Persediaan Barang Jadi
Awal Tahun           91,365
Pembelian         264,654
Akhir Tahun         (21,220)
Jumlah Beban Pokok Penjualan     1,938,59362.50%
Total     3,101,643
Segmen Operasi
PT. Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk
Tahun 2017 Q3 ( Jutaan Rupiah )
KeteranganProduksi MakananPengolahan BerasKonsolidasi
Penjualan Netto                   1,806,427                 2,302,614    4,109,041
Beban Pokok Penjualan                (1,163,050)               (1,938,594)  (3,101,644)
Laba Kotor                      643,377                     364,020    1,007,397
Persentase35.62%15.81%
Alokasi Beban Usaha                    (242,095)                   (152,775)     (394,870)
(Beban) / Pendapatan Lainnya                    (121,200)                     (80,364)     (201,564)
Laba Usaha                      280,082                     130,881        410,963
Beban Keuangan Netto                      (44,294)                   (115,045)     (159,339)
Laba Sebelum PPh                      235,788                       15,836        251,625
Beban Pajak PPh                      (60,802)                       (5,529)        (66,331)
Laba Tahun Berjalan                      174,986                       10,307        185,294
Persentase Laba Bersih9.69%0.45%
Laba Tahun Berjalan Yang Diatribusikan
Entitas Induk        140,828
Kepentingan Non Pengendali          35,921
Jumlah        176,749
Asset Segmen                   4,730,162                 4,697,278    9,427,440
Liabilitas Segmen                   3,255,431                 3,614,916    6,870,347
Penghasilan ( Beban ) Lain – Lain
PT. Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk
Tahun 2017 Q3 ( Jutaan Rupiah )
Keterangan Amount
Pendapatan Lain
Laba Penjualan Aset Tetap                    –
Laba Selisih Kurs             1,081
Pendapatan Denda           40,085
– Pendapatan Atas Denda Kepada PT JOM terkait Penjualan GOLL dengan nilai transaksi Rp 521 miliar, dengan denda sebesar 10.25%/Tahun jika Transaksi Pembayaran tidak dilakukan ( dihitung mulai tanggal 1 Oktober 2016 ) Transaksi Penjualan harus dilakukan selambat – lambatnya 30 September 2016
Nilai Piutang             3,945
Lain – Lain             7,583
Pendapatan Lain – Lain             6,473
Beban Lainnya
Penyisihan Penurunan Nilai Piutang           (8,677)
Biaya Manajemen           (5,330)
Lain – Lain           (3,486)
Jumlah           41,674

Meskipun Pendapatan Industri Beras AISA sebesar 56.39% dari total pendapatan total, namun beban pokok penjualan industry beras sebesar 62.50 %, sehingga laba kotor yang dihasilkan industry beras hanya sebesar 15.81%. Margin ini jelas – jelas lebih kecil dari margin laba kotor dari industry produksi makanan yang dapat menghasilkan margin laba kotor sebesar 35.62%.

Sehingga jika divestasi beras benar – benar dilaksanakan maka tidak ada ruginya jika AISA hanya berfokus pada industry sejatinya, karena industry sejati AISA pada dasarnya sudah menghasilkan laba yang sangat memuaskan.

Dengan dijualnya industry beras AISA bukan berarti AISA kehilangan sejumlah asset penting, namun asset itu tentunya akan berubah mejadi cash dan piutang, namun penulis belum tahu berapa total asset yang akan hilang jika industry beras dijual. Hal yang perlu diingat saat AISA menjual GOLL kepada PT. JOM sebesar 521M, sampai saat ini AISA belum menerima pelunasan sama sekali dari PT JOM, namun AISA menerima denda sebesar 10.25% dari piutang yang belum dibayar tersebut.

Jadi apakah AISA masih menjadi emiten yang layak untuk di investasikan ?

Saat artikel ini disharing AISA berada pada harga 482 dengan PER sebesar 6.69, PBV sebesar 0.35, PSR sebesar 0.28, PCFR sebesar 2.01 dan DER sebesar 117.62%