Saham Delisting Bentoel Internasional Investama RMBA

Saham delisting merupakan night mare bagi pemegang saham perusahaan TBK pada umumnya namun apakah selalu berakhir pahit untuk pemegang saham nya ? Recent update saham RMBA atau Bentoel Internasional Investama mengumumkan akan go private setelah British American Tobacco menawarkan untuk membeli saham publik senilai 1000 rupiah per lembar saham nya.

Hal ini merupakan bagian dari rencana Bentoel untuk go private dan delisting. Perusahaan akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) untuk membahas rencananya tersebut pada 28 September 2021. 

Perusahaan rokok yang sudah dikenal sejak 1989 ini dengan beberapa produk andalan nya Star Mild, Bintang Buana, Dunhill, dan Lucky Strike ini pun akhirnya akan go private.

Saham Delisting Bentoel Biru
Saham Delisting Bentoel Internasional Investama

Berikut adalah beberapa produk dari Bentoel :

Rokok Kretek Tangan

Rokok kretek (yang bahan bakunya merupakan perpaduan tembakau dan cengkeh) yang proses pembuatannya dilinting dengan menggunakan tangan.

Rokok Kretek Mesin Reguler

Rokok kretek (yang bahan bakunya merupakan perpaduan tembakau dan cengkeh) yang proses pembuatannya menggunakan mesin, dengan kandungan tar yang lebih tinggi dari rokok kretek mesin mild.

Brand kami yang berada dibawah kategori ini: Dunhill Filter.

Rokok Kretek Mesin Mild

Rokok kretek (yang bahan bakunya merupakan perpaduan tembakau dan cengkeh) yang proses pembuatannya menggunakan mesin, dengan kandungan tar yang lebih rendah dari rokok kretek mesin reguler.

Brand kami yang berada dibawah kategori ini: Dunhill Mild, Club Mild dan Lucky Strike Mild

Rokok Putih Mesin

Rokok dengan bahan baku tembakau yang proses pembuatannya menggunakan mesin.

Brand kami yang berada dibawah kategori ini: Lucky Strike, Dunhill Regular, Dunhill Lights, dan Dunhill Menthol.

Dengan saham publik sebesar 0.2 % sebenarnya sudah wajar jika perusahaan memutuskan untuk go private . Pemegang saham terbesar ada di BAT atau British American Tobacco sebesar 92.5 % dengan sisanya di pegang oleh United Bank of Switzerland.

Jika kita menilik dari segi harga penawaran sebesar 1000 rupiah tentunya para pemegang saham publik akan di untungkan jika dilihat dari harga penutupan sebelum tersuspensi saham nya berada di angka 306 rupiah. Memang bukan wow secara persentase jika kita mengingat beberapa tahun yang lalu ketika Aqua memutuskan untuk go private dengan menawarkan 500 ribu per lembar saham nya anyhow tetap saja untuk kedua kasus ini investor masih diuntungkan dari proses delisting saham atau go private ini.

Saham delisting atau go private merupakan salah satu dari sekian banyak risk yang harus diterima oleh para investor dengan lapang dada regardless apapun itu namun kita harus ingat selama proses go private ini atas inisiatif dari perusahaan terkait dan bukan paksaan karena wajib go private tentunya dewi fortuna masih berpihak terhadap para investor terutama investor ritel. Apakah hal ini mematahkan semangat sebagai investor ritel di pasar modal ? Tentunya tidak , selama kita selalu paham akan resiko sebagai investor di dunia saham dan selalu mengerjakan pekerjaan rumah kita dengan baik tentunya hal ini justru menambah pengalaman sebagai seorang investor di bursa saham kita . Apapun metode analisa saham yang kita pergunakan baik analisa fundamental maupun analisa teknikal resiko semacam ini tetap akan saja ada meskipun persentasinya tidak sebesar jika kita tidak mengerjakan pekerjaan rumah kita sebagai seorang investor.

Baca juga : Analisa Fundamental Saham Praktis Dan Teoritis

Salam sukses Investasi !!

Jangan lupa like dan share and follow our instagram @analisafundamental for any update dunia bursa saham Indonesia

Ayo Share follow dan like kita ya: